Bagi wanita, menstruasi memang sudah menjadi kodrat dan teman setia setiap bulan. Sayangnya, kedatangan “tamu” tersebut seringkali mengganggu dan menimbulkan rasa sakit. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 85% wanita mengalami gangguan fisik dan psikis menjelang, saat, atau pun sesudah menstruasi. Biasanya gangguan tersebut berlangsung antara satu minggu sebelum sesudah mentruasi dan Psikiater dari Unika Atma Jaya Dharmady Agus mengatakan gangguan fisik yang biasa dialami adalah rasa pusing, mual, pembengkakan payudara, perut kembung, sampai pingsan. Sedangkan gangguan psikis mulai dari ledakan emosi dalam bentuk amarah, sensitifvitas yang tinggi, sedih, merasa sunyi, hingga depresi dan keinginan bunuh diri arah Gangguan psikis atau mental selama PMS dalam istilah kedokteran menurut Dharmady disebut Premenstrual Dysphoric Disorder atau biasa disingkat PDD. Berbagai penelitian menunjukkan cukup banyak perempuan yang mengalami gangguan PDD. Penekanannya lebih pada perubahan emosi, mulai dari yang ringan hingga berat. Mulai dari perasaan cepat marah hingga keinginan menyakiti diri sendiri, orang lain, dan bunuh diri.

Untuk mengatasi PDD, perhatian dan dukungan keluarga sangat diperlukan. Jika tingkat PDD semakin erat, tidak bisa tidak, diri sendiri mau pun keluarga sebaiknya mencari pertolongan ke psikiater agar bisa dilakukan terapi. Di luar negeri, terang Dharmady, kesadaran untuk mencari pertolongan sudah cukup tinggi. Itu sebabnya, tidak sulit mencari kelompok-kelompok yang menjalani terapi. Selama ini, metode terapi kelompok terbukti efektif, karena masing-masing penderita PDD bisa saling menguatkan dan melakukan kontrol. Mereka juga bisa lebih mengenali dan melakukan antisipasi ketika gejala PDD muncul Di Indonesia, kesadaran seperti itu masih sangat kecil. Biasanya PMS dianggap sebagai gejala umum, abaikan saja, toh bisa sembuh sendiri setelah masa itu lewat. Padahal, PDD jelas akan memengaruhi kehidupan sehari-hari, menurunkan kualitas hidup dan produktivitas.
Para peneliti mengungkapkan bahwa risiko PMS justru bisa meningkat setelah perkawinan. Perempuan yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS dibanding perempuan lajang. Sebuah jurnal kedokteran menegaskan, peningkatan PMS terjadi pada usia 30 hingga 45 tahun. Setelah itu biasanya secara perlahan terjadi penurunan risiko. Dr Guy E Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, lewat situs menstruasi. com membagi PMS dalam empat tipe. Bila sudah mengetahui di mana tipe diri sendiri berada, maka saat muncul gejala PMS bisa diminimalisasi. Berikut empat tipe yang dimaksud: Tipe A (Anxiety) Ditandai dengan gejala cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil. Beberapa wanita bahkan mengalami depresi ringan sampai sedang. Saran: Konsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein dari kopi, teh, dan cokelat.
Tipe C (Craving) 
Muncul gejala pembengkakan pada perut (kembung) nyeri pada buah dada, tangan, kaki, serta terjadi peningkatan berat badan. Biasanya terjadi karena asupan garam dan gula yang tinggi pada penderita. Gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe-tipe lain. Saran: Kurangi asupan garam dan gula. Juga jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh.
Tipe D (Depression) 
Biasanya mengalami rasa lapar, ingin mengonsumsi makanan yang manis (cokelat) dan karbohidrat sederhana. Biasanya setelah menyantap dalam jumlah banyak muncul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing, terkadang sampai pingsan. Gejala ini muncul karena peningkatan hormon insulin Saran: Perbanyak konsumsi sayuran hijau, biji-bijian gandum, dan kacang-kacangan.
Tipe H (Hyperhydration) 
Muncul keinginan menangis, lemah, gangguan tidur pelupa, bingung, sulit berkata-kata. Bahkan muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri Biasanya tipe ini berlangsung bersamaan dengan tipe A. Hanya 3 % penderita yang murni mengalami tipe D. Saran: tingkatkan konsumsi vitamin B6 dan magnesium.
Apa saja gejala PDD? 
Psikiater Dharmady Agus menyebutkan:
1. Depresi, rasa putus asa, pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri.
2. Tegang, gelisah, kadang-kadang justru muncul perasaan yang sangat gembira.
3. Labilitas afek yang jelas (perasaan tiba-tiba sedih, menangis sangat sensitif terhadap penolakan).
4. Perasaan marah yang menetap, iritabilitas, dan peningkatan konflik interpersonal.
5. Penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan, teman, dan hobi).
6. Secara subyektif merasa sulit berkonsentrasi.
7. Letargi, mudah lelah, kurang energi yang jelas.
8. Perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun).
9. Insomnia atau hipersomnia.
10. Secara subyektif merasa gembira berlebihan.
11. Gejala-gejala fisik lain, seperti: sakit kepala, nyeri sendi atau otot, payudara membengkak, dan berat badan meningkat.
Apa yang harus dilakukan? 
1. Psikoterapi Efektif untuk menghilangkan gejala-gejala PDD. Terapi suportif dan terapi kelompok dapat digunakan. Penderita akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan kelompok, lebih mengerti tentang gejala-gejala yang terjadi, tahu bahwa dirinya tida sendirian, mengurangi rasa bersalah, membantu menghindari stres, dan memperbaiki kepercayaan diri . Keberhasilan terapi ini mencapai 40-50 % , sekaligus membuktikan besarnya peran psikologis dalam kasus-kasus PDD
2. Latihan Fisik Keluhan PDD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolahraga. Olahraga dikaitkan dengan penurunan stres.
3. Diet Hindari kopi dan rokok. Kurangi juga kadar gula. Minum susu sangat dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan, Vitamin A, E, B6, Ca carbonat, Mg, dan Zn dapat mempebaiki PDD.
4. Terapi Farmakologik Secara umum, terapi farmakologik hanya dapat diberikan di bawah pengawasan seorang dokter. Misalnya dalam bentuk pemberian obat, penyeimbangan hormon, terapi cahaya, pembedahan, dan sebagainya.

Apa penyebab PDD?
Berbagai teori telah diajukan untuk menerangkan PDD. Banyaknya faktor yang diduga memengaruhi adalah:

Psikososial Menurut teori psikoanalisis , gejala – gejala PDD merupakan manifestasi dari konflik peran sebagai wanita. Haid diartikan sebagai suatu stimulus yang mengancam konflik yang telah direpresi. Secara tidak sadar, penderita PDD menggunakan fungsi haidnya untuk menyatakan ketegangan sebagai akibat situasi lingkungan yang menekan, kesukaran dalam hubungan antarpribadi, atau oleh sikapnya sendiri terhadap kewanitaannya hasil penelitian di Malang menunjukkan penderita PDD merupakan orang yang suka merengek, suka mengeluh, mudah marah, pasif, keterpaksaan untuk menerima yang berat karena tak kuasa atau nolak
Genetik Sekitar 70 % anak wanita dengan ibu penderita PDD juga menderita PDD. Pada kelompok kontrol (ibu yang tidak menderita PDD) didapat angka sekitar 37%. Biologik Berbagai teori neuroendokrin telah dilaporkan sebagai penyebab PDD. Itu berarti, antara lain keseimbangan hormon esterogen dan prosgesteron berperan besar. Juga hormon tiroid, endorfin, prostaglandin, dan lain-lain. Duuuh seram ya? Apalagi kata Dharmady dan berbagai penelitian, jika tidak diobati, PDD bisa berkembang kronik. Penderitanya bisa menjadi agresif (mudah menyerang orang lain) atau justru sebaliknya ingin sekali bunuh diri.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *