Pernikahan sejenis yang terjadi di Jember, Jawa Timur pernah menghebohkan. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Muhammad Erfan berbicara tak menduga sebelumnya kalau pasangan yang dirinya nikahkan pada 19 Juli 2017 silam itu nyatanya sesama jenis.

Menurut Erfan, tak ada yang aneh pada diri pasangan yang dirinya nikahkan pada pertengahan Juli itu. “Yang berperan sebagai calon istri mengenakan jilbab serta mengkegunaaankan pakaian yang tertutup. Suaranya juga semacam seorang wanita,” kata Erfan terhadap Tempo, Rabu 25 Oktober 2017. Hari itu juga ada berbagai pasangan pengantin yang bakal dirinya nikahkan. “Saya menonton pasangan ini semacam halnya menonton pasangan laki-laki serta wanita lainnya yang saya nikahkan,” ujarnya.

Sebab itu, Erfan mengaku kaget ketika ada laporan ihwal pernikahan sejenis di KUA Ajung. “Semakin terang, ketika ada lembaga swadaya masyarakat yang mengabarkan permasalahan ini, saya kaget,” kata Erfan melewati sambungan telpon Rabu pagi ini. Erfan mengaku dilematis untuk mengambil langkah, sebab laporan lembaga tersebut tak disertai dengan bukti. “Kalau laporannya benar, berarti saya kecolongan, kalau laporannya nyatanya salah, persoalan juga,” kata dia. Sebab itulah dirinya mengaku dilematis sekali.

Hingga kemudian semacam dikabarkan, polisi sudah mengendus keresahan masyarakat ihwal kehadiran pasangan sejenis ini di Kecamatan Panti. Erfan baru mengabarkan permasalahan ini ke pihak kepolisian pada Senin malam, 23 Oktober 2017. “Saya dimintai keterangan sampai dinihari,” ujarnya. Erfan juga sudah menyerahkan dokumen-dokumen sebagai barang bukti dugaan pemalsuan. “Biar Polisi yang menangani,” katanya. Erfan mengaku sudah kecolongan dengan adanya pernikahan sejenis itu.

Semacam dikabarkan, Mudin di KUA Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember kecolongan sudah mengawinkan pasangan sesama jenis. Permasalahan perkawinan sejenis yakni sesama lelaki itu sekarang tengah diusut. Pasangan sesama tipe ini merupakan MF, 21 tahun, warga Kecamatan Panti serta AP, 23 tahun, warga Kecamatan Ajung sekarang menjalani penahanan di Polres Jember sebab dugaan pemalsuan surat.

Kedua tersangka dijerat pasal 263 serta 266 KUHP. “Pada pasal 263 berbunyi barang siapa dengan sengaja untuk menciptakan surat palsu alias memalsukan surat dalam faktor ini menciptakan surat palsunya serta kemudian pasal 266, menyuruh memberilan keterangan palsu dalam akte otentik,” ucap Kusworo.

Untuk pasal 263 KUHP, ancaman hukumannya merupakan 6 tahun penjara serta pasal 266 ancaman hukumannya 7 tahun penjara. Kusworo berbicara kedua tersangka pernikahan sejenis ini ditahan di sel Polres Jember. “Perlakuannya sama,” kata Kusworo.

Comments

comments